Direktur Teknologi Informasi Kekayaan Intrlektual (TIKI) Drs. Yasmon, M.L.S membuka “Workshop on Intellectual Property and Innovation”  di auditorium DJKI, Jakarta, 30 Maret 2017. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual bekerja sama dengan United Kingdom Intellectual Property Office (UK IPO).

Pembicara dalam kegiatan ini Mrs. Christabel Koh, (SE Asia IP Adviser , UK IPO, British High Commision Singapore); Dr. Nessa Carey, (Workshop Facilitator and Trainer, International Director, Praxis Unico); Mr. Hywel Matthews, (Senior Policy Adviser for ASEAN and Japan, UK IPO);.Mrs Lena Herliana, (Senior Proseperity Officer/ Trade & Investment Adviser, British Embassy Jakarta).  

Direktur TI-KI menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan perhatian dan dukungan yang nyata terhadap pelaksanaan dan perkembangan KI di tanah air Indonesia.

Secara umum, arti inovasi adalah mengembangkan ide baru dan menempatkannya dalam praktek. Artinya inovasi digunakan untuk proses membawa produk baru yang bernilai ke pasar. Oleh karena itu teknologi dan inovasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan untuk mencapai keberhasilan di dalam pemasaran suatu produk. Manajemen teknologi dan inovasi menjadi penting, karena dengan mengelola teknologi dan inovasi produk dengan baik akan mendorong pelaku usaha dan industri untuk terus mengembangkan produk mereka agar mengikuti perkembangan pasar.

Inovasi juga sangat erat kaitannya dengan Kekayaan Intelektual, dengan perlindungan kekayaan intelektual, maka akan menumbuhkan inovasi-inovasi baru baik dibidang perindustrian maupun seni dan ilmu pengetahuan. Adanya perlindungan terhadap kekayaan intelektual juga menjadi suatu aset yang bernilai karena memberikan hak-hak keekonomian yang besar. Adanya hak kekayaan intelektual ini bahkan dapat menjadi suatu katalis bagi pertumbuhan perekonomian suatu negara. 

Dalam mengembangkan inovasi guna pertumbuhan perekonomian negara, maka juga dibutuhkan pemanfaatan atau komersialisasi aset intelektual melalui mekanisme alih teknologi maupun  penelitian dan pengembangan di bidang kekayaan intelektual. Cara atau mekanisme yang dapat dilakukan dalam alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil penelitian dan pengembangan kekayaan intelektual adalah dengan melalui lisensi, kerjasama, pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi; dan/atau publikasi. Alih teknologi tidak dapat berjalan dengan baik dan sesuai tujuan apabila tidak ada kerja sama dengan badan usaha atau penerima yang siap dan mampu untuk memenuhi persyaratan mutu, kinerja dan sumber daya lainnya.  Upaya kerja sama antara Sentra KI dengan badan usaha dapat dilakukan melalui kegiatan promosi/pemasaran atas KI baik melalui promosi langsung ke badan usaha ataupun melalui kegiatan promosi usaha oleh pemerintah kepada masyarakat.

Pemasaran diperlukan untuk menjembatani suatu produk sampai ke tangan konsumen, terjadi aliran produk secara fisik dan ekonomi dari produsen melalui pedagang perantara ke tangan konsumen. Pemasaran juga merupakan suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu/kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain. Agar pemasaran suatu produk berhasil, diperlukan inovasi dari suatu produk sebagai nilai tambah dari suatu produk. Hal ini sejalan dengan pendapat dari ahli ekonomi terkemuka Peter Drucker yang menyatakan bahwa tujuan dari bisnis adalah menciptakan pelanggan, dimana menurutnya bisnis memiliki dua fungsi yakni Marketing and Innovation”.

Lebih lanjut Direktur TIKI mengharapkan bahwa melalui pelatihan ini tentunya dapat dipelajari bagaimana pengelolaan manajemen inovasi produk di Inggris dan dapat diterapkan di Indonesia. Pengetahuan baru inipun tentunya akan dapat mendukung didalam Mengembangkan inovasi-inovasi di Indonesia. Berdasarkan data statistik jumlah permohonan paten di Indonesia baru 10% dari total seluruh permohonan yakni 9.200.

Selain itu kegiatan nantinya akan  dapat memberikan nilai tambah, meningkatkan daya saing, menambah pengetahuan, pemahaman dan penguasaan KI yang baik. Selanjutnya akan mampu memberikan kontribusi dalam mendorong dan menciptakan iklim yang kondusif dalam pembangunan rezim KI di Indonesia, sekaligus menimbulkan gairah para investor untuk menanamkan investasinya.

 

Pertemuan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) kembali digelar dan berlangsung dari tanggal 21 Februari hingga 3 Maret 2017. Pada putaran RCEP ke-17 ini, negara Jepang, tepatnya kota Kobe, menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan acara perundingan internasional tersebut yang melibatkan sepuluh negara anggota ASEAN dan enam negara mitra ASEAN pada perjanjian perdagangan bebas (AFPs) (India, Republik Korea, Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, Australia dan Selandia Baru). RCEP memiliki enam working group yang menangani bidang berikut: Trade in Goods, Trade in Services, Investment, Intellectual Property, Legal and Institutional Issues, dan Electronic Commerce. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dan Kementerian Luar Negeri menjadi Delegasi Republik Indonesia (DELRI) dalam Pertemuan RCEP ke-17 tersebut untuk Working Group Intellectual Property (WGIP).

Pertemuan khusus untuk WGIP ini sudah masuk pada putaran ke-13, yang diawali dengan agenda Pertemuan ASEAN Caucus yang dilaksanakan pada tanggal 25 dan 26 Febuari 2017 dalam rangka menentukan posisi negara-negara anggota ASEAN dalam perundingan sebelum menghadapi WGIP Plenary Meeting dengan negara-negara mitra ASEAN (AFP). Selanjutnya, WGIP Plenary Meeting diselenggarakan pada tanggal 27 Februari hingga 3 Maret 2017. Delegasi dari Singapura, Mr Derek Lo, memimpin jalannya negosiasi, baik untuk Pertemuan ASEAN Caucus, maupun WGIP Plenary Meeting. Agenda dalam Pertemuan WGIP ke-13 ini kembali membahas Single Working Document RCEP on IP Chapter dan melanjutkan diskusi pada bidang Enforcement, Technological Protection Measures (TPM), Rights Management Information (RMI), Patent Term Restoration, dan Data Exclusivity, dengan menggunakan pendekatan non-paper serta isu-isu lainnya. Dalam pertemuan ini telah disepakati dua usulan teks mengenai tujuan dan peningkatan prosedur administrasi Kekayaan Intelektual, dan menyisakan outstanding issues yang masih harus diselesaikan.

Pertemuan RCEP selanjutnya akan diadakan pada tanggal 8 hingga 12 Mei 2017 di Filipina dengan agenda WGIP antara lain Presentasi Republik Korea tentang Patent Term Restoration (PTR), usulan Australia untuk amandemen teks Genetic Resources and Traditional Knowledge (GRTK), Perjanjian TRIPS dan Public Health serta isu-isu yang termasuk kategori 1 (yang bersifat teknis).

       

021-29027417

humas.hki@dgip.go.id

Address

H.R. Rasuna Said Street Kav. 8-9
H.R. Rasuna Said Street Kav. 8-9
Kuningan - South Jakarta
Kuningan - South Jakarta, Indonesia
12940
12940

Working Hours

Sunday - Friday
Sunday - Friday
07:30 - 16:00 WIB
07:30 - 16:00 WIB
Loket
Counter IP Service